Dimana Kuang Hendak Bertelur
Dimana kuang hendak bertelur
Diatas lata dirongga batu
Dimana tuan hendak tidur
Diatas dada dirongga susu
Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada didalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Naik kebukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palm
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm
Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak
Hati Siapa tak Bimbang
Hati siapa tak bimbang
Situ botak minta dikepang
Buah kedondong Buah atep
Dulu bencong sekarang tetepp ....
Buah semangka buah duren
Nggak nyangka gue keren
Buah semangka buah manggis
Nggak nyangka gue manis
Buah apel di air payau
Nggak level layauuuuuuu…..
Pohon kelapa, Pohon durian,
Pohon Cemara, Pohon Palem
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!
Buah Nanas, Buah bengkoang
Buah jambu, Buah kedondong
Ngerujak dooooooooonggggggg…
Ada padi, Ada jagung
Ada singkong, Ada pepaya
Panen ni yeeeeeeeeeeeee!
Disini bingung, Disana linglung
mangnya enak, engga nyambung….
Buah semangka berdaun sirih
Buah ajaib kali yah?????????
Jalan kaki ke pasar baru
Jauh boooooooooooo….
Jambu merah di dinding
Jangan marah just kidding
Jauh di mata,dekat dihati
Jauh di hati,dekat dimata
Jauh-dekat tujuh ratus perak
Nemu gesper, di pinggir jalan
Kalo laper, makan tu gesper
Men sana in corpore sano
Gue maen kesana,
Elo maen ke sono!
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati
Saya bingung kamu pun bingung
Kenapa ada bunga melati ???!?
Anak ayam turun ke bumi
Induk ayam naik kelangit
Anak ayam nyari kelangit
Induk ayam nyungsep ke bumi
Sayur asem sayur sop
laper nich
dilangit ada tomat
sengit amat
buah kedongdong buah tomat
Elu bodong amat
buah duren di pohon beringin
rese’ banget tuch duren….
ayam kurus bulunya banyak
rugi banget yang beli………
kakak monyonk adik memble
keturunan jelek kali ye…
Pantun Mengompol
Bunga mawar tangkai berduri
Laris manis pedang cendol
Aku tersenyum malu sekali
Ingat dulu suka mengompol
Pantun Ikan Gabus
Ikan gabus di rawa-rawa
Ikan belut nyangkut di jaring
Perutku sakit menahan tawa
Gigi palsu loncat ke piring
Pantun Kecil-kecilan
Ikan hiu di lemari
Yuuukkk marrrriiiii
Selotip sayur lodeh
Sensitip dehhhhh
Pantun Seorang Wanita
Aku melihat wanita yang menawan
jalan ** memakai rok mini
sungguh lemas aku terheran
ada babi lagi baca sms ini
SMS Pantun Nembak Cewek
Ikan hiu pegel-pegel
I love U girl...
Pantun Kain Batik
Kain batik selendang bedukang, di bawah pusar daging berlubang, Jangan pegang punya si Abang, kalo kena si urat Panjang, air setitik menjadi ORANG
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Maret 2010
Pantun Jenaka
Kamis, 11 Maret 2010
Humor Agama
Al Amin dan Unta
Di Negeri Antah Berantah, hiduplah seorang remaja dengan lampu ajaib. Pemuda tersebut bernama Al Amin, dan lampu ajaib yang berisikan jin yang dapat mengabulkan semua permintaan.
Di tengah terik matahari yang panas. Al Amin mengeluh karena hanya dengan berjalan kaki menyeberangi gurun pasir yang sangat panas itu. Suatu ketika Al Amin mempunyai ide untuk meminta unta agar dia tidak berjalan kaki lagi. Mantera pemanggil jin pun di ucapkan Al Amin.
Al Amin : Bul Gombal Gambul ….
Al Amin : Bul Gombal Gambul …….
Al Amin : Dut … Duuut…. Duuuuuuut ….
Al Amin : Woy,… keluar bego !!!
Jin : Sorry bro telat, abis lembur gua soalnya bini minta jatah. Haa Haa Haaa….
Al Amin : Ada ada loe Jin. Jin keluarin unta dong, cape gua jalan kaki.
Jin : Siap Bos !!! “TIIING !” (unta pun seketika ada di depan mata)
Jin : Ada cara ni bos, tiap kamu bersyukur unta akan jalan dan lari cepat.
Tapi kalo kamu mengumpat unta akan berhenti.
Al Amin : Oke lah coy ….
Akhirnya unta pun di naiki Al Amin. “Alhamdulillah” , unta pun jalan. “Alhamdulillah Wa Syukurillah” , unta pun berlari cepat. Asik ga cape lagi gua. “Alhamdulillah Hirobbil Alamin” , unta pun melesat kencang bagaikan kuda sembrani. Tiba-tiba di depan Al Amin ada jurang dia pun berteriak “GOBLOK !!! Ada jurang! Berenti GOBLOK!!!
Sssstt…. Ciiiiitt……
Unta pun tepat berhenti di ujung tepi jurang. Al Amin pun senang karena selamat. Lalu dia pun mengucapkan “Alhamdulillah,, selamet gua”.
AL AMIN PUN MASUK JURANG …….
Pak Haji Yang Mata Duitan
Amir adalah anak Pak haji. Dia berteman dengan Budi.
Suatu hari, didapatinya Amir sedang berjudi.
Budipun langsung lapor Pak Haji
Budi: Pak Hji! Pak Haji! anakmu main judi
Pak Haji: Astaghfirullah
Budi: Tapi menang terus lho!
Pak Haji: Alhamdulilah
Rabu, 10 Maret 2010
Humor Sufi
Tidak Konsisten dengan Pengetahuan
Seorang Darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.
Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.
"Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang Darwis.
"Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nasrudin.
Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.
"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang Darwis.
"Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasrudin.
"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si Darwis,
"Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."
Kebijaksanaan dari Toko Sepatu
Nasrudin diundang menghadiri sebuah pesta perkawinan. Sebelumnya, di rumah orang yang mengundang itu, ia pernah kehilangan sendal. Karenanya sekarang ia tidak lagi meninggalkan sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyimpannya di balik jubahnya.
"Buku apa itu di dalam sakumu?" tanya tuan rumah kepada Nasrudin.
"Ha, mungkin dia sedaang mencari-cari sepatuku," pikir Nasrudin, "untung aku dikenal sebagai kutu buku."
Maka dengan sekeras-kerasnya ia berkata: "Tonjolan yang engkau lihat ini adalah Kebijaksanaan."
"Menarik sekali! Dari toko buku mana engkau dapatkan itu?"
"Yang jelas aku mendapatkannya dari toko sepatu!"
Bersembunyi Dari Pencuri
Suatu malam seorang pencuri membobol rumah Nasruddin. Untung saja Nasruddin melihatnya. Karena takut, dengan cepat Nasruddin bersembunyi di dalam sebuah kotak besar yang terletak di sudut ruangan.
Si pencuri sedang mengaduk-aduk isi rumah Nasruddin mencari uang ataupun barang berharga yang dimiliki Nasruddin. Dia membuka lemari, laci-laci, kolong-kolong, dan lain-lain. la tapi tidak menemukan satu pun barang berharga.
Pencuri itu hampir saja menyerah dan memutuskan untuk keluar dari rumah Nasruddin. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada kotak besar yang terletak di sudut ruangan kamar Nasruddin. Dia sangat senang karena dia yakin dalam kotak itulah disimpan harta benda yang dia cari.
Walaupun kotak itu terkunci kuat dari dalam, tapi dengan kekuatan penuh, pencuri itu berhasil membuka kotak tersebut. Pencuri itu sangat kaget ketika melihat Nasruddin berada di dalam kotak itu. Pencuri itu sangat marah dan berkata, "Hei! Apa yang kau lakukan di dalam situ?"
"Aku bersembunyi darimu," jawab Nasruddin.
"Kenapa?"
"Aku malu, karena aku tak punya apapun yang dapat kuberikan padamu. Itulah alasan mengapa aku bersembunyi dalam kotak ini."
Ujian Menebak Isi Tangan
"Menurut pandangan umum, para Sufi itu gila," gumam Nasrudin. "Menurut para orang bijak, mereka benar-benar penguasa dunia. Aku akan mengeceknya, supaya aku sendiri bisa yakin mana yang benar."
Kemudian ia melihat seseorang yang tinggi besar, mengenakan jubah seperti seorang Sufi Akldan.
"Sahabat," kata Nasrudin, "aku ingin membuat sebuah percobaan untuk menguji kekuatan jiwamu, dan juga kesehatan rohaniku."
"Boleh. Silakan mulai," kata sang Akldan.
Nasrudin membuat gerakan menyapu dengan tangannya, kemudian mengepalkan kedua tangannya. "Sekarang, apa yang ada ditanganku?"
"Seekor kuda, kereta dan sais," ujar sang Alsldan cepat.
"Itu sih bukan test," ujar Nasrudin marah, "Habis kamu sih tadi melihat aku mengambilnya."
Tampak Seperti Engkau
uatu hari Nasrudin, sambil berdiri di dekat lapangan sebelah pasar, dengan sepenuh hati melantunkan sebuah syair:
"O, cintaku! Keseluruhan diriku begitu terliputi oleh-Mu Segala yang ada di hadapanku Tampak seperti Engkau!"
Tiba-tiba seorang pelawak berteriak: "Bagaimana jadinya jika ada orang dungu di depan matamu?"
Tanpa berhenti, sang Mullah terus membaca syairnya: "...Tampaknya seperti Engkau!"
"Heh?"
Perlakuan Sama Tapi Hasil Berbeda
"Segala sesuatu yang ada harus dibagi sama rata," ujar seorang filsuf di hadapan sekelompok orang di warung kopi.
"Aku tak yakin, itu akan terjadi," ujar seseorang yang selalu ragu.
"Tapi, pernahkah engkau memberi kesempatan?" menimpali sang filsuf.
"Aku pernah!" teriak Nasrudin. "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa yang betul-betul mereka inginkan."
"Bagus sekali!" kata sang filsuf. "Sekarang katakan bagaimana hasilnya."
"Hasilnya adalah seekor keledai yang baik, dan istri yang buruk."
Anak Kecil yang Kurang Ajar
Nasrudin biasa duduk-duduk di teras sebuah warung kopi. Suatu hari, seorang anak kecil laki-laki berlari di hadapannya sambil memukul kepala Nasrudin sehingga sorbannya melayang. Tapi sang Mullah tidak bereaksi apa-apa. Hal yang sama terjadi terus selama beberapa hari. Yang selalu dilakukan sang Mullah adalah mengambil sorbannya yang terjatuh dan mengenakannya kembali.
Seseorang bertanya kepada Nasrudin mengapa ia tidak menangkap dan menghukum anak kecil itu, atau meminta orang lain untuk melakukanya.
"Itu bukan cara yang tepat," kata Nasrudin.
Suatu hari Nasrudin, terlambat datang ke warung kopi. Ketika sampai di sana, dilihatnya seorang serdadu dengan wajah yang seram sedang duduk di tempat yang biasanya ia duduki. Tiba-tiba anak kecil laki-laki itu muncul. Seperti biasanya, ia menonjok sorban orang yang duduk di tempat itu. Tanpa berkata apa-apa, sang serdadu menghunus pedangnya dan kemudian memenggal leher anak itu.
"Ah, dia kan hanya anak kecil...!" gumam Nasrudin dengan penuh sesal.
Tidak ada Yang Menawarkan Keledai Pengganti
"Engkau memang telah kehilangan keledaimu, Mullah. Tetapi tidak perlu bersedih, lebih sedih dibanding ketika engkau kehilangan istrimu."
"Ah, kalau saja kalian ingat. Ketika aku kehilangan istriku, kalian semua warga kampung berkata: 'Kami akan mencari pengganti untukmu'. Tapi coba sekarang, ketika keledaiku mati tak seorang pun yang menawarkan penggantinya."
www.ketawa.com
Langganan:
Postingan (Atom)





